Minggu, 19 September 2021 Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara kembali menyerahkan bantuan benih, kali ini berupa benur Udang Vaname kepada 3 (tiga) Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) di Kecamatan Tirto, yaitu Pokdakan Minosari sejumlah 637.500 ekor, Ulamsari 637.500 ekor dan GadingSari 150.000 ekor. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bapak Chocep Sugianto, A.Md petugas dari BBPBAP Jepara kepada masing-masing Ketua Pokdakan.
[Gambar]
Bantuan benih ini sebagai upaya untuk mendukung pengembangan budidaya ikan air payau di Desa Jeruksari. Benih Udang Vaname yang diterima selanjutnya dilakukan pendederan di lokasi tambak milik masing-masing Pokdakan. Pendederan ini perlu dilakukan mengingat benih bantuan itu ukurannya masih kecil.
[Gambar]
Bantuan benur udang vaname ini merupakan yang pertama kali diterima oleh pokdakan di Desa Jeruksari Kec. Tirto, sebelumnya dari BBPBAP Jepara memberikan bantuan benih Bandeng. Hal ini merupakan hasil inisiatif pokdakan untuk merubah kebiasaan memelihara Bandeng menjadi Udang Vaname yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi. Pokdakan melalui Penyuluh Perikanan mengajukan proposal yang disetujui Dinlutkan Kab. Pekalongan kepada BBPBAP Jepara pada tahun 2020 dan direalisasikan pada tahun 2021.
[Gambar]
Sampai dengan saat ini Pokdakan di Desa Jeruksari Kecamatan Tirto telah menerima bantuan benih dari BBPBAP Jepara sebanyak 3 kali, yaitu 2 kali benih Bandeng dan yang terbaru benih udang Vaname. Bantuan ini diharapkan dapat berlanjut dan berkembang baik untuk membantu anggota Pokdakan sebagai upaya penguatan ketahanan pangan nasional ditengah pandemi covid-19 dan meningkatkan kesejahteraan masing-masing anggota Pokdakan.
(Penyuluh Perikanan)
Selasa, 28 September 2021
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan, didampingi Kepala Seksi Budidaya Air Payau Burhan Arifin, S.Pi meninjau proses pengerjaan jalan produksi tambak yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) berupa jalan beton sepanjang 155 meter dengan lebar 280 – 300 cm yang akan diserahkan kepada Kelompok Minosari disaksikan Kepala Desa Jeruksari H Budiharto dan anggota pokdakan.
Jalan produksi ini diharapkan mampu menunjang aktivitas pembudidaya ikan air payau dalam pengangkutan sarana produksi budidaya ikan maupun hasil panen yang selama ini aksesnya terputus karena jalan yang ada hancur tergenang rob. Selain sebagai akses lalu lintas pembudidaya ikan, jalan produksi ini juga berfungsi sebagai tanggul untuk menahan arus sungai yang meluap karena rob ke tambak disisi timur jalan.
[Gambar]
Harapan pembudidaya di Jeruksari, pembangunan jalan produksi tambak ini dapat diteruskan hingga tersambung sampai muara jeruksari, sehingga aktivitas budidaya dapat ditingkatkan lagi. Pada akhirnya dengan pembangunan jalan produksi tambak ini maka pembudidaya ikan tidak perlu menggunakan perahu untuk menjangkau lokasi tambak yang tentunya menambah biaya produksi. Dengan pembangunan jalan tersebut, pembudidaya akan lebih bersemangat dalam kegiatan budidaya ikan karena secara tidak langsung dapat mengurangi biaya produksi.
[Gambar]
Disela-sela kunjungan Kepala Dinas melihat perkembangan pembangunan jalan produksi, beliau diajak kelompok pembudidaya menyusuri akses jalan yang terputus akibat rob sekaligus melihat upaya konservasi dan rencana tempat wisata yang sedang dikerjakan pemerintah desa Jeruksari yang didukung oleh pihak-pihak terkait.
[Gambar]
(Penyuluh Perikanan)
Kamis, 9 September 2021
Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang diunggulkan yang memiliki beberapa kelebihan seperti memiliki nilai ekonomis, sumber protein, dapat dibudidayakan dilahan sempit / pekarangan rumah, siklus panen relatif singkat (2 bulan), ikan lele mudah beradaptasi di air yang terbatas, dan digemari masyarakat.
Selama pandemi Covid-19, budidaya ikan lele menjadi sumber ekonomi bagi pelaku usaha perikanan di Desa Pedawang, Kec. Karanganyar khususnya bagi anggota pokdakan Mina Karya Lestari yang di motori oleh Bpk Suntung, Bpk Tohari, dan Bpk Ahmad Santoso. Untuk saat ini sudah ada 25 unit kolam lele produktif di desa Pedawang dan 1 UPR lele milik Bpk Tohari.
Potensi Perikanan di Desa Pedawang
Desa Pedawang memiliki potensi perikanan baik dari segi SDM dan SDA. Potensi sumber daya alam yang dimiliki adalah sumber air yang mengalir sepanjang tahun, lahan / kebun dengan kontur tanah yang datar dan tidak porus serta banyak tersedia sumber pakan ikan alternatif. Adapun potensi sumber daya manusianya antara lain pelaku usaha/ petani yang tekun, sudah terbiasa budidaya ikan turun temurun, dan terdapat pengepul pemasar lokal.
Peran Pemerintah dalam Pengembangan Budidaya Ikan Lele
Pengembangan usaha perikanan telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan melalui pemberian stimulan usaha perikanan dalam bentuk 10 unit kolam beserta pakan dan benih ikan lele berkualitas. Penebaran benih telah dilakukan pada tanggal 23 Juli 2021 dan diperkirakan panen pada pertengahan bulan September 2021. Secara teknis budidaya juga diberikan pendampingan penyuluh perikanan wilayah kec. Karanganyar, sehingga usaha budidaya ikan lele ini dapat dijadikan percontohan bagi pelaku usaha ikan lele di tingkat Kec. Karanganyar.
[Gambar]
Untuk membentuk mata rantai perekonomian di sektor perikanan yang berkelanjutan dan berdampak ekonomi bagi warga desa Pedawang, perlu dibentuk jejaring usaha perikanan baik bagi pelaku usaha budidaya lele, UPR, pembuat /penjual pakan ikan, dan pemasaran ikan.
Pengembangan Usaha Perikanan
Pada hari Rabu 1 September 2021, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan melakukan pembinaan di pokdakan Mina Karya Lestari. Kepala Dinas melakukan monitoring ke seluruh kolam ikan lele anggota kelompok pembudidaya. Pada kesempatan ini para pembudidaya dapat menyampaikan secara langsung kepada Kepala Dinlutkan tentang hal hal yang berkaitan dengan kendala dalam budidaya ikan lele seperti kolam yang sudah mulai rusak, harga pakan yang mahal dan kekurangan modal usaha untuk pengembangan.
[Gambar]
Kepala Dinas berpesan bahwa perlunya pelaku usaha perikanan menerapkan manajemen keuangan dan administrasi dengan baik dan cermat, agar usaha perikanan ini berkembang karena ada beberapa pelaku usaha perikanan gulung tikar bukan karena masalah teknis budidaya tetapi gagal karena manajemen keuangan yang salah atau tidak tertib. Oleh karena itu penting adanya buku keuangan dan administrasi, agar semua tercatat rapih sehingga dapat diketahui untung / rugi, jumlah aset dimiliki, dan kemampuan modal yang ada untuk pengembangan.
(Penyuluh Perikanan)
Rabu, 8 September 2021
Dalam rangka peningkatan prasarana perikanan untuk peningkatan akses lalu lintas pembudidaya ikan air payau dalam pengangkutan sarana produksi budidaya ikan maupun hasil panen, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan pada Tahun Anggaran 2021 membangun jalan produksi tambak di Kawasan Tambak Depok Kabupaten Pekalongan. Hal ini merupakan perwujudan dari Undang-undang Nomor 7 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam yang memberikan mandat kepada Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya untuk melaksanakan langkah-langkah perlindungan dan pemberdayaan diantaranya terkait penyediaan sarana dan prasarana budidaya perikanan seperti jalan produksi, saluran irigasi, jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi, bahan bakar minyak, serta sarana dan prasarana lainnya.
[Gambar]
[Gambar]
[Gambar]
Jalan produksi tambak yang dibangun pada tahun ini terdiri dari 2 paket pekerjaan yaitu Jalan Produksi Tambak Depok I yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) berupa jalan beton sepanjang 285 meter dengan lebar 200 – 250 cm yang akan diserahkan kepada Pokdakan Suter Mas, dan Jalan Produksi Tambak Depok II berasal dari APBD berupa jalan beton dan talud dari pasangan batu belah sepanjang 130 meter dengan lebar 150 – 120 cm yang akan diserahkan kepada Pokdakan Suter Mas II.
[Gambar]
Di samping untuk peningkatan akses lalu lintas pembudidaya ikan, pembangunan Jalan Produksi Tambak Depok yang melintang dari barat – timur juga berfungsi untuk penguatan tanggul tambak di sepanjang jalur tersebut dari pengaruh rob yang semakin tinggi. Pada akhirnya dengan pembangunan jalan produksi tambak ini maka pembudidaya ikan di kawasan depok yang didominasi oleh pembudidaya ikan bandeng dan udang vaname akan lebih bersemangat dalam kegiatan budidaya ikan karena dengan pembangunan jalan tersebut secara tidak langsung dapat mengurangi biaya produksi.
[Gambar]
(Bidang Budidaya)
Selasa, 10 Agustus 2021
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan pada Hari Jum’at , 30 Juli 2021 mendampingi kunjungan Bupati Pekalongan Ibu. FADIA ARAFIQ, SE, MM ke Pokdakan Berkah Pangestu Lele, di Dukuh Sebakung Rt. 001 Rw. 006 Desa Jeruksari Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan.
Kunjungan ini dalam rangka Penebaran Benih Lele dan Penyerahan Simbolis Bantuan Sarana Budidaya Lele, sekaligus melihat secara langsung potensi lahan ROB, untuk kegiatan budidaya lele yang ada di Desa Jeruksari Kecamatan Tirto di Kabupaten Pekalongan.
Kegiatan ini di hadiri oleh :
[Gambar]
Dalam sambutannya Bupati Pekalongan, pada tahun 2021 Pemerintah kabupaten Pekalongan, mulai menggulirkan program peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan budidaya ikan. Program yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK), Bupati Pekalongan sangat mengapresiasi usaha Budidaya Lele yang di lakukan oleh Pokdakan Berkah Pangestu Lele, di Dukuh Sebakung Rt. 001 Rw. 006 Desa Jeruksari Kec. Tirto Kabupaten Pekalongan, beliau sangat berharap agar usaha ini dapat berkembang untuk peningkatan pendapatan anggota. Dalam masa panen, kelompok dapat membelikan kembali Benih dan Pakan. Desa Jeruksari Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan masuk dalam 6 Desa, Kategori miskin, oleh sebab itu kegiatan ini merupakan prioritas bagi Pemerintah Kab Pekalongan, yang diperuntukan bagi Masyarakat khususnya di Pokdakan Berkah Pangestu Lele.
Budidaya lele yang dilakukan oleh Pokdakan Berkah Pangestu Lele, merupakan sistem budidaya dengan memanfaatkan lahan terdampak rob untuk diubah menjadi lahan perikanan dengan sistim waring dan kolam terpal. Budidaya lele masih menjadi andalan di masa pandemi covid-19, karena harga ikan yang cenderung stabil, permintaan yang cukup tinggi, dan lele merupakan komoditas yang di buru oleh masyarakat kalangan menegah ke bawah. Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan siap untuk mendukung dan memdampingi permasalahan dari pemdudidaya ikan.
Sementara itu, Kasnadi selaku Ketua Pokdakan Berkah Pangestu Lele, menyampaikan tentang kondisi usaha yang dilakukan dalam kelompok, usaha budidaya ikan lele, tidak mengalami dampak COVID - 19. Sehingga kegiatan kelompok dapat berjalan seperti biasa. Kegiatan di Pokdakan Berkah Pangestu Lele antara lain :
Produksi benih lele berkisar 40.000 – 60.000 ekor, kebutuhan benih untuk kelompok berkisar 70 – 80 %, sisanya di jual ke daerah sekitarnya, dengan omzet benih per bulan 4.000.000 – 6.000.000
Produksi ikan lele segar, persiklus (panen 3 bulan) 2 – 3 ton, dengan omzet 38.000.000 – 57.000.000 persiklus dan pendapatan bersih 6.000.000 – 9.000.000 per silklus.
Dalam pemasaran ikan lele, Pokdakan Berkah Pangestu Lele tidak mengalami hambatan, di karenakan anggota kelompok ada yang sudah di kader untuk memasarkan ikan lele di pasar tradisional serta adanya kerjasama dengan tenggkulak untuk menyerap hasilpanen apabila mengalami kelebihan stok ikan.
Ketua Pokdakan Berkah Pangestu Lele, Bapak Kasnadi mengajak masyarakat umum, untuk gemar makan ikan lele, karena ikan lele dapat menambah imun tubuh bagi masyarakat, serta kandungan protein yang cukup tinggi. Kegiatan budidaya ikan lele sangat membantu bagi masyarakat, serta dapat mengurangi pengangguran, menekan angka kemiskinan bagi masyarakat Desa Jeruksari pada umumnya.
Harapan dari kelompok, dengan modal yang tidak lumayan banyak dan tingkat resiko yang sedikit kecil, perlu adanya pendampingan, pelatihan, bimbingan teknis, dan penyuluhan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pekalongan agar masyarakat tidak kesulitan dalam mengadopsi teknologi budidaya sehingga dapat berhasil dan berkembang. Pokdakan Berkah Pangestu Lele berharap agar pemerintah dapat difasiltasi program program yang lain, yang dapat di manfaatkan oleh masyarakat.
[Gambar]
Acara dilanjutkan secara simbolis oleh Bupati Pekalongan dengan penebaran benih lele size 8-9 cm dengan total jumlah 600 ekor, di lanjutkan simbolis Wakil Ketua DPRD Kab Pekalongan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Pekalongan, Kepala Dinas Kominfo Kab Pekalongan.
[Gambar]
Kamis, 5 Agustus 2021
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan pada hari Kamis, 22 Juli 2021 mendampingi kunjungan wakil Bupati Pekalongan Bp. H. Riswadi, S.H ke Pokdakan Depok Vanname Mas di Desa Depok Kecamatan Siwalan Kabupaten Pekalongan. Kunjungan ini dalam rangka untuk panen bersama udang vanname sekaligus melihat secara langsung potensi kegiatan budidaya udang vaname yang ada di Kabupaten Pekalongan. Hadir dalam acara ini Wakil Bupati Pekalongan, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kab. Pekalongan, Sekda Kabupaten Pekalongan, Asisten 1 Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kab. Pekalongan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan, dan Sekretaris Bappeda Kab. Pekalongan.
Dalam sambutannya Wakil Bupati Pekalongan sangat mengapresiasi usaha Budidaya Vanname yang ada di Desa Depok Kec. Siwalan dan sangat berharap agar usaha ini dapat dicontoh untuk Desa-desa yang lain di Kab. Pekalongan. Hal ini disebabkan karena Budidaya Udang Vaname yang dilakukan oleh Pokdakan Depok Vanname Mas merupakan sistem budidaya dengan memanfaatkan lahan terdampak rob untuk diubah menjadi lahan perikanan tambak udang. Budidaya udang vaname masih menjadi primadona di masa pandemi covid-19 karena harga panen yang cenderung stabil dan udang vanname merupakan komoditas ekspor Indonesia. Pemerintah Kabupaten Pekalongan siap untuk mendukung dan memfasilitasi kebutuhan dari petambak vanname serta melakukan pembangunan infrastruktur agar dapat meringankan beban biaya produksi dari budidaya udang Vanname sehingga masyarakat dapat lebih sejahtera.
[Gambar]
Sementara itu, M. Solaiman selaku bendahara Pokdakan Depok Vanname Mas, menyampaikan tentang berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam budidaya udang vanname. Budidaya Udang Vanname membutuhkan modal yang lumayan besar dan tingkat resiko yang tinggi sehingga perlu adanya pendampingan, pelatihan, bimbingan teknis, dan penyuluhan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pekalongan agar masyarakat tidak kesulitan dalam mengadopsi teknologi budidaya sehingga dapat berhasil. Pokdakan Depok Vanname Mas sangat berharap agar pemerintah dapat memfasiltasi kebutuhan para pembudidaya udang vanname baik dari segi infrastruktur, akses permodalan dan bantuan sarana dan prasarana budidaya udang vanname.
[Gambar]
Pada Kesempatan itu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan menyampaikan tentang upaya yang dilakukan Dinas untuk memfasilitasi pembudidaya udang vanname yang ada di Kab. Pekalongan. Program-program yang sudah dilakukan Dinas selama ini adalah dengan memberikan bantuan sarana prasarana, pelatihan dan bimbingan teknis, serta pendampingan sejak tahun 2017 hingga 2018. Namun di tahun 2019 program tersebut dihentikan karena adanya refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19. Tahun ini dinlutkan akan mencoba menganggarkan kembali untuk memberikan pembekalan dan pendampingan di tahun 2021 ini sesuai arahan Wakil Bupati Pekalongan.
[Gambar]
Acara dilanjutkan dengan panen secara simbolis oleh Wakil Bupati Pekalongan dan rombongan serta foto bersama petambak udang Vanname yang ada di Desa Depok Kec. Siwalan. Dari hasil panen dapat diketahui bahwa size udang yang di panen berkisar antara 25-30 ekor/kg dengan jumlah panen pada hari ini adalah 6 Ton. Total produksi yang dihasilkan dari lahan budidaya M. Solaiman adalah 11 Ton dengan luas areal budidaya adalah 6000 M2 yang terdiri dari 4 petak budidaya.
Potensi alih fungsi lahan pertanian terdampak rob untuk budidaya ikan atau udang vanname masih sangat tinggi mengingat fenomena rob yang terjadi dari tahun ke tahun semakin parah. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada di lapangan. Fasilitasi pendampingan dan percontohan, pembangunan infrastruktur, akses permodalan serta bantuan sarana dan prasarana untuk budidaya juga sangat diperlukan oleh masyarakat, (Bidang Budidaya).
Senin, 2 Agustus 2021
Pembentukan Kelompok Widari Embung Berkah
Adanya pandemi Covid 19 dari tahun 2020 hingga tahun 2021 ini, ternyata tidak menyurutkan semangat warga desa Limbangan kec. Karanganyar dalam menjalankan roda ekonomi keluarga. Beberapa warga bersepakat memanfaatkan potensi lahan yang ada untuk melakukan budidaya perikanan khususnya ikan lele. Dimotori oleh Casmari, Sukodo dan Tarsono, pada tanggal 01 Juli 2020 mereka membentuk kelompok budidaya perikanan dengan nama Widari Embung Berkah. Anggota kelompok ini berjumlah 10 orang dan telah memiliki badan hukun sejak 20 Oktober 2020.
[Gambar]
Pada awalnya anggota kelompok membuat 2 unit karamba di belakang mushola dan 2 kolam terpal secara swadaya, sebagai sarana latihan budidaya ikan lele. Setelah itu, kelompok Widari Embung Berkah melakukan studi banding tentang budidaya ikan lele pada pokdakan Mandiri Jaya Farm materinya meliputi: persiapan kolam, media air, pemilihan bibit, dan pemberian pakan serta jejaring pemasaran hasil produksi ikan lele. Mereka berpandangan bahwa menguasai teknik budidaya dan memiliki jejaring pemasaran itu perlu, setelah itu baru melakukan pengembangan usaha. Dengan demikian resiko kegagalan dalam usaha dapat dihindari.
[Gambar]
Potensi Produksi Ikan Lele
Saat ini kelompok Widari Embung Berkah telah berkembang dengan memilik kolam lele ukuran 2 X 4 m2 sebanyak 30 unit lokasinya berada di pekarangan rumah/ kebun milik anggota kelompok. Potensi produksi ikan lele konsumsi per kolam adalah 125 kg size 8-12 (ekor/kg) dengan harga Rp. 17.000,-/kg di tingkat petani, masa pemeliharaan 2 sd 3 bulan (1 siklus usaha). Adapun pemasaran lele konsumsi dilakukan oleh jejaring (penebas lokal) yang berada di kec Karanganyar dan Kajen sehingga tidak ada kesulitan dalam penyerapan pasar hasil produksi ikan lele. Potensi produksi perikanan (ikan lele) yang ada di desa Limbangan adalah 3.750 kg/siklus, maka potensi dalam setahun (4 siklus) adalah 15.000 kg. Diharapkan hal ini berdampak secara ekonomis bagi pendapatan anggota kelompok budidaya ikan lele di masa pandemi Covid 19.
Pengembangan Usaha Perikanan
Pada hari Senin 24 Mei 2021 Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan melakukan kunjungan pembinaan di pokdakan Widari Embung Berkah. Kepala Dinas melakukan monitoring/ cek kondisi ke seluruh kolam ikan lele anggota kelompok pembudidaya. Pada kesempatan ini para pembudidaya dapat menyampaikan secara langsung kepada Kepala Dinlutkan tentang hal hal yang berkaitan dengan kendala dalam budidaya ikan lele seperti kolam yang sudah mulai rusak, harga pakan yang mahal dan kekurangan modal usaha untuk pengembangan.
Kepala Dinas berpesan bahwa sesuai dengan program prioritas di bidang kelautan dan perikanan, potensi perikanan budidaya merupakan prioritas yang dapat menggerakkan ekonomi para pembudidaya ikan. Oleh karena itu pihak Dinas Kelautan dan Perikanan akan terus membina serta mendampingi hingga desa Limbangan menjadi sentra produksi ikan lele di kec. Karanganyar.
(Penyuluh Perikanan)
Kamis, 27 Mei 2021
Kegiatan Pembinaan Pengelolaan Pantai Wisata Wonokerto dihadiri oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Hadi Ali Mukharop, S.St.Pi beserta jajarannya dan pengurus BUMDes Mitra Mina Desa Wonokerto Kulon, Kecamatan Wonokerto selaku pengelola Pantai Wisata Wonokerto pada hari Rabu, 31 Maret 2021. Dalam kesempatan itu Krisandi Oktofredi selaku ketua BUMDes Mitra Mina menjelaskan keterkaitan pihaknya dengan survei lokasi rencana penanaman mangrove di Kabupaten Pekalongan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan kegiatan BUMDes yang lain.
[Gambar]
Melalui forum diskusi diperoleh kesimpulan bahwa rencana penanaman mangrove dari Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pekalongan belum ada lokasi/hamparan yang sesuai untuk penanaman mangrove di Pantai Wisata Wonokerto. Lokasi yang ada saat ini adalah hamparan pantai berpasir yang lebih cocok ditanami cemara laut. Meskipun demikian, untuk lokasi penanaman mangrove dengan hamparan yang luas dan substrak tanah yang cocok terdapat di Desa Semut Kecamatan Wonokerto.
Kesepakatan lainnya meliputi perlunya penataan kembali lingkungan pantai wisata Wonokerto agar sesuai dengan peruntukannya sehingga mempunyai nilai jual yang tinggi. Selanjutnya BUMDes Mitra Mina agar ikut serta dalam lomba inovasi wisata bahari yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan juga even lainnya yang diadakan oleh instansi mana pun sebagai media promosi sekaligus untuk memfasilitasi Poklahsar dalam memasarkan produknya.
[Gambar]
Point akhir yang tidak kalah pentingnya adalah agar BUMDes Mitra Mina selalu melaporkan perkembangan wisata kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk pengembangan ke depan.
(Bidang Perikanan Tangkap dan Masyarakat Pesisir)
Senin, 19 April 2021
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pekalongan Drs. Sirhan, Senin, 5 April 2021 melakukan kunjungan pembinaan kepada kelompok Pembudidaya Ikan Minosoyo Tentrem Desa Wonoyoso, Kecamatan Buaran. Hal ini dilakukan karena kepala dinas melihat adanya semangat/greget dalam kelompok itu sendiri. Kelompok yang berdiri pada tanggal 14 Agustus 2020 ini dalam waktu kurang dari satu tahun yaitu sekitar bulan Februari 2021 telah memiliki badan hukum. Dalam kunjungan itu disambut oleh Kepala Desa Wonoyoso Bayu Sukmono. Seperti diketahui wilayah kecamatan Buaran pada umumnya dan Desa Wonoyoso khususnya adalah wilayah yang tidak termasuk berpotensi di bidang perikanan.
Topik Pembinaan yang disampaikan pada kunjungan tersebut adalah pengembangan budidaya ikan air tawar di lahan milik kelompok Minoyoso Tentrem. Kepala Dinas yang didampingi oleh Sekretaris Dinas Hadi Ali Mukharop, S.St.Pi mengarahkan agar pada pembuatan konstruksi kolam budidaya dilakukan sesuai dengan standar budidaya ikan yang baik dan benar antara lain adanya saluran masuk (inlet) dan saluran keluar (outlet) serta adanya tandon air (reservoir air) yang sewaktu-waktu digunakan untuk mengatasi kondisi darurat/kekeringan.
[Gambar]
Sementara pada saat mengunjungi salah satu anggota kelompok Minoyoso Tentrem yaitu Zubaidi (32) yang merupakan pelaku usaha budidaya ikan cupang, diperoleh keterangan bahwa produksi cupang yang bersangkutan telah dikirim ke berbagai kota di Indonesia bahkan telah menembus pasar internasional yaitu ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Khusus untuk penjualan ke luar negeri, Zubaidi melaporkan pihaknya, dan para pelaku usaha ikan hias lainnya masih harus melalui “shipping” yang berada di Bekasi, Jawa Barat.
[Gambar]
Secara umum Kepala Dinas menyatakan bahwa pembinaan terhadap pembudidaya ikan hias cupang yang merupakan anggota dari kelompok Minoyoso Tentrem agar dilakukan kerjasama yang baik dengan pembudidaya ikan yang sudah sukses untuk meningkatkan kualitas produksi dan kuantitas penjualan produk.
[Gambar]
Untuk pembinaan lebih lanjut, kelompok pembudidaya ikan Minoyoso Tentrem agar dijaga kekompakannya dan segera mengajukan usul kegiatan sesuai dengan kebutuhan, baik budidaya ikan di kolam maupun budidaya ikan hias.
(Penyuluh Perikanan)
Jumat, 16 April 2021